Sungguh, anggap saja ini curhat.


Suer, anggap saja ini curhat,

Akrab manakala harus, diam kalau perlu, sanggup berlaku seenaknya sendiri maupun serius, pokoknya berusaha menjalani kehidupan semesta secara semestinya. Salah satunya adalah yang membingungkan atau mematahkan semangat dalam kasih sayang maupun dalam kesendirian yang mampu menimbulkan kegembiraan-kegembiraan yang tak seimbang.

Pada titik ini, aku memikirkan tentang realita, eh sebenarnya bukan realita itu sendiri, melainkan lebih kepada apa yang ada di dalam pikiranku sendiri saat ini. Aku terbelah menjadi apa yang ada di pikiran dan apa yang ada di luar dari pikiranku. *ruwet.

Aku sedang mencoba memahami realita menjadi sesuatu yang sedang aku pikirkan, karena sebuah realita tidak dengan begitu saja dikatakan tidak ada hanya karena aku tidak mampu memikirkannya. Karena bagiku, realita yang tidak bisa dipikirkan merupakan realita yang belum terpikirkan untuk dipikirkan saja. *tambah ruwet

Aku sedang berusaha masuk dalam pemahamanku. Mengumpulkan semua kebetulan-kebetulan menjadi sesuatu yang dianggap wajar oleh waktu pada masanya nanti. Mungkin memang membutuhkan waktu untuk diam sejenak membelai semua peristiwa dan merasakan kembali untuk menjadi kerasan di dalam ketakkerasanan ini.

Ternyata aku belum mahir. Mahir dalam mengurai dari segala apa yang menggerakkan kemungkinan-kemungkinan itu. Karena betul-betul menjadi manusia yang sedemikian sempurna dan sederhana, jelas aku masih merasa sebagai pemula amatiran. Perlu diingat, sekali lagi. Anggap saja ini curhat.

Lompat – lompat tanpa jejak.


Dear cangkir kopi isi penuh,

Menghindari kenyataan, melempar semua keluhan kepada Tuhan. Mereka saling berebut fokus. Sekedar ingin dimengerti, hanya memuaskan emosi. Kumpulan keinginan memerlukan pikiran. Realita adalah satu hal. Semestinya adalah hal lain. Kedewasaan membuat kutahu membedakannya.

Dear cangkir kopi isi setengah,

Logika hanya berisi antara kata dan kenangan. Berlebih yang satu, mengurangi yang lain. Berusaha menambah kata tanpa mengubah kenangan. Meskipun kita juga perlu mempertimbangkan berbagai peristiwa dan rasa. Hey… sasaran mencurahkan segala rasa itu hati, bukan sekedar menggerakkan ibu jari.

Ketika beribu-ribu kata yang ternyatakan, tak dapat membatalkan satu kenyataan.

Dear cangkir kopi, cepat katakan, dimana jejakku berada.

Sebuah cerita ketika duduk di langit pagi kemarin sore.


Saat itu gajah masih bertelur dan kuda masih bisa terbang. Berjalan melayang di sekitaran air yang jatuh dari Bumi. Bermacam kenangan melayang kian menjauhi dari saat mereka terjadi. Di sini kereta berhenti lama. Kujumpai Van Gogh sedang mendengarkan Simphony 5 di gerbong 6. 

Ditempat ini, rasa bermunculan saling tular menular. Dari sunyi ke bunyi. Begitu seterusnya. 

Seharusnya kutemui kau disini, tempat dimana kita pertama kali bertemu. Namun, semua menghilang. Hilang seperti kata yang kehilangan pengertian. Lagu tanpa musik, kuning tanpa warna, waktu tanpa kenangan, hingga aku tanpa kamu.

Dua raka’at kemudian, yang tersisa hanya aku dan pagi, yang selalu siap dan tak sabar untuk terbang lagi.

Hari ke tiga ratus enam puluh lima, pergantian.


Baru saja pergantian waktu, dari sore ke malam.

Baru saja pergantian hujan, dari hujan deras ke gerimis.

Baru saja pergantian hari, dari kemarin ke hari ini.

Baru saja pergantian angka, dari 00.20 ke 00.22.

Baru saja pergantian warna, dari hitam tua ke hitam muda.

Baru saja pergantian nada, dari Do ke La.

Baru saja pergantian rasa, dari kangen ke rindu.

Baru saja pergantian hati, dari dia ke kamu.

Baru saja, iya, baru saja aku tersenyum menulis ini. Sampai jumpa lagi dan terimakasih banyak.

Hari ke dua ratus sembilan puluh, selamat datang kembali hujan.


Hujan turun selama delapan belas menit dan lima puluh tujuh detik. Sebelumnya hanya gerimis kecil dan pada saat itu setiap orang masih menikmatinya sekedar untuk merayakan efek roman picisan dari gerimis ini. Kian menderas.

Aku menepi, menunggu dan menikmati hujan. Hujan deras ini memberikan kesempatan untuk duduk termenung, bahwa sekiranya hujan tak pernah ingkar janji untuk datang kembali mengunjungiku.

Jalanan sepi. Tak seorangpun yang keluar ke jalan. Jika tidak karena hal yang dirasa penting, pasti tidak akan melakukan itu, bukan saja hujan yang menahan seseorang untuk terus melanjutkan perjalanannya, akan tetapi ada hal lain yang juga menahanku untuk tak melanjutkan perjalananku ke padamu.

Selamat datang kembali, hujan. Sampaikan salamku pada malaikat gerimis, dan katakan juga padanya ketika hujan mulai reda dan awan-awan lenyap, dimana tak ada yang dapat kulakukan diluar sana, selain diam di kesunyian yang sulit demi menyiasati dinginnya malam ini.

Hari ke dua ratus enam puluh tujuh, aku dimusuhi oleh tulisan ini.


Meski masih menganut dari sebaris sajak Subagio Sastrowardojo : melalui dosa kita bisa dewasa. Seperti orang yang baru bangun dan berusaha keras mengingat mimpi yang justru ingin dilupakan oleh ingatan. Apa yang “nyata” kemudian?

Aku menarik napas, sebab tahu bahwa argumen itu goyah di sini. Tapi akhirnya aku sadar, aku harus memihak. Diriku yang dahulu telah menghilang, berganti dengan diriku yang kini terkantuk-kantuk di depan lembaran putih kertas ini.

Dulu, aku mencoba meminjamkan beberapa peristiwa laluku padamu. Kembali memberikan kesempatan untuk berpikir dan mencairkannya dalam kata-kata. Tapi tak semua hal bisa dibahasakan, tak semua makna dapat dimengerti dalam suatu percakapan. Hey… sesuatu ini belum selesai, belum sudah. Sebab itu bisa saja aku menyimpulkan bahwa kerinduan ini adalah jawabannya. Jawaban dari setiap mimpi-mimpiku. Tapi ingatkah kamu apa pertanyaanku?

Karena ketika tanpamu, aku digilas oleh kerinduan.