Suer, anggap saja ini curhat,
Akrab manakala harus, diam kalau perlu, sanggup berlaku seenaknya sendiri maupun serius, pokoknya berusaha menjalani kehidupan semesta secara semestinya. Salah satunya adalah yang membingungkan atau mematahkan semangat dalam kasih sayang maupun dalam kesendirian yang mampu menimbulkan kegembiraan-kegembiraan yang tak seimbang.
Pada titik ini, aku memikirkan tentang realita, eh sebenarnya bukan realita itu sendiri, melainkan lebih kepada apa yang ada di dalam pikiranku sendiri saat ini. Aku terbelah menjadi apa yang ada di pikiran dan apa yang ada di luar dari pikiranku. *ruwet.
Aku sedang mencoba memahami realita menjadi sesuatu yang sedang aku pikirkan, karena sebuah realita tidak dengan begitu saja dikatakan tidak ada hanya karena aku tidak mampu memikirkannya. Karena bagiku, realita yang tidak bisa dipikirkan merupakan realita yang belum terpikirkan untuk dipikirkan saja. *tambah ruwet
Aku sedang berusaha masuk dalam pemahamanku. Mengumpulkan semua kebetulan-kebetulan menjadi sesuatu yang dianggap wajar oleh waktu pada masanya nanti. Mungkin memang membutuhkan waktu untuk diam sejenak membelai semua peristiwa dan merasakan kembali untuk menjadi kerasan di dalam ketakkerasanan ini.
Ternyata aku belum mahir. Mahir dalam mengurai dari segala apa yang menggerakkan kemungkinan-kemungkinan itu. Karena betul-betul menjadi manusia yang sedemikian sempurna dan sederhana, jelas aku masih merasa sebagai pemula amatiran. Perlu diingat, sekali lagi. Anggap saja ini curhat.