Kelanjutan dari aku ke aku dari hari ke hari.


Kemanapun hilangnya, toh rasa ini kembali lagi padaku. Atau lebih tepatnya, aku yang kembali padanya. Sekarang aku masih percaya bahwa benci masih lebih kuat daripada rindu. Hanya saja, aku butuh waktu lama untuk melupakannya. 

Aku mengakui keletihan ini, aku bahkan kehilangan benang merah tiap kata segala peristiwa yang berlalu saja setiap hari. Kehilangan situasi dalam suatu kesengajaan. Kata-kata makian berlipatganda di sekitaranku. Kesendirian telah sungguh terbukti, ketika hanyut oleh kesedihan yang kering sedang mata selalu basah. Aku menghilang, untuk menghukummu. Boleh dikata demikian. Tapi, aku tidak yakin. Aku tidak pernah yakin hukuman ini menimpa padamu? Bukan. Ya, aku sendiri. Aku cidera. Cidera yang cukup dalam terutama karena kesengajaan. Terlalu dalam. Aku layaknya seorang yang melakukan bunuh diri. Karena satu alasan? Tidak. Aku bunuh diri karena dua alasan. Yang pertama, karena aku mencintai diriku sendiri. Yang kedua, kamu yang selalu tahu alasannya.

Diam saja membungkam sambil meresapi ketaknyamanan ini, atau setidaknya berdustalah dengan cara yang paling mungkin. Seperti, aku baik-baik saja. Dulu, kemarin. Dan hari ini.

.kita hanya ada sepanjang kita bergantung bersama.


kita hanya ada sepanjang kita bergantung bersama. ingatan ada selama kita bersama.

ketika ingatan menganggap kenangan adalah sebuah sejarah. nostalgia yang tak tersembuhkan akan suatu dunia yang telah lama hilang. adalah kekuatan ingatan untuk mewujudkan apa yang ada dan yang telah ada menjadi kepingan-kepingan kenangan mengerak di lapisan dasar sejarah terlepas dari biasnya prasangka.

ironi-ironi kecil semakin menegaskan bahwa setiap ingatan yang melibatkan emosi, masih tak pernah mau berkompromi dengan waktu. bukan ingatan sederhana, tentunya. kini, baik ingatan maupun kenangan harus tunduk kepada sejarah secara berkelanjutan, tetapi bagaimana ingatan dan kenangan muncul kembali adalah perkara lain.

sejarah, ia mampu menyampaikan kenangan-kenangan yang tidak pernah mencapai pengertian sepenuhnya hingga suatu ingatan yang tetap berada jauh, diperintahkan diam oleh masa lalu.

padamu, sejarah. kuserahkan entah ingatan, entah kenangan. sama saja.

kapak lupa, pohon ingat.


sama halnya denganku yang mengingat segala peristiwa dengan caraku sendiri. bagaimana aku mengingat semua meskipun belum tentu bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

sama halnya dengan hujan hari ini, celakanya tak hanya mengingatkan aku akan bagaimana caranya agar tidak basah. tapi, lebih dari itu. lebih.

bertubi-tubi mencoba mendefinisikan peristiwa ini dalam hal orang lain. meskipun ini sangat membebaskan, membebaskan aku dalam segala ingatan yang kini lebih sering ke sebut sebagai museum ketakutan.

namun, aku tidak pernah menyalahkan ingatan atas keterasingan yang terjadi oleh jeda. aku bertanggung jawab atas harapan yang kubawa, untuk reaksi emosionalku sendiri, untuk ketidaknyamananku sendiri, dan untuk suasana hatiku sendiri.

menurutku, ingatan ini tak perlu kuperlihatkan seutuhnya padamu. sama halnya bulan malam ini, dia hanya menunjukkan sebagian dirinya. dengan begitu mungkin akan lebih indah dilihat, terkadang.

meskipun, kadang muncul kadang hilang di balik awan. ah, tapi aku selalu ingat, karna aku: pohon.

eh, jangan-jangan, kita adalah sama-sama kapak. atau sebaliknya. aku: pohon. kamu : pohon. yang tak mengucapkan sepatah katapun. meskipun bersebelahan, diam, berabad-abad.

ah, tapi tahukah kamu, ingatan?

seseorang yang kuingat setelah kucingku pergi, kamu.

 

Lagi, Satu Rasa : Kata.


 

Pada mulanya adalah bukan kata, tapi rasa. Satu kata yang dirasakan hingga menjadi rasa yang terkatakan. Makna, mungkin perlu makna untuk menjembatani agar kata tak terpisahkan dari rasa, meskipun rasa juga merupakan pemberontakan dari kata.

Ini tentang sebuah kata yang tengah ku rasa. Aku melihat, tiap kata memiliki rasa yang berbeda hingga mampu melahirkan rasa baru. Bagiku, yang menarik di sini adalah persoalan kata dan rasa.

Aku masih menyisakan kata yang belum dibahas dalam rasa ini, haruskah aku bertanya dengan kata? tak bisakah aku bertanya dengan rasa?

Mungkin sebenarnya kata-kata telah melaksanakan dengan baik tanggung jawabnya untuk menciptakan dan mempertahankan rasa. Akan tetapi, tugas ini menjadi mustahil untuk dilakukan dengan baik sejauh setiap kata tidak mengakui keadaan apa adanya dan mengacuhkan rasa yang seharusnya.

Seandainya terdapat cara yang tidak hanya menjadikan kata sebagai penunjuk rasa melainkan sebagai sumber perasaan, sebuah cara yang tidak hanya menjadikan kata menjadi kalimat namun juga sebagai sesuatu yang dirasa juga merasa.

Satu kata, satu nama, satu rasa.

.Layani aku dengan senyumanmu.


Pada suatu sembarang keadaan.

Aku sukar bernafas, telinga semakin panas, udara terasa semakin gerah hingga menyesakkan dada, mendengar peristiwa-peristiwa yang sengaja diringkas sedang emosi semakin tertahan. Pada cuaca yang sedang seperti ini, yang kulakukan hanyalah menghambur-hamburkan perasaan ini. 

Ini tidaklah mudah, meskipun aku membawa sekotak kebenaran sedang kamu juga mempunyai sekoper kebenaran. Iya, seperti itulah kebenarannya, kata kita. Tapi, bagaimana kita bisa berpikiran bahwa kita memang benar? Ketika kita belum terbebas dari segala alasan hebat. Alasan yang belum pasti. Lagipula, kepastian itu tidak selalu disertai dengan konsekuensi.

Masing-masing kita menuntut status tidak bersalah, dengan harga apapun. Kita saling tergesa-gesa untuk menyimpulkan keputusan satu sama lain, hingga pembenaran selalu menjadi benar bagi kita.

Hey… Kita sedang sama-sama berhenti di puncak. Bukan, bukan untuk saling menunggu siapa duluan yang jatuh. Kita sedang menunggu kapan waktu yang tepat untuk turun. Tidak, tidak ada hal yang tidak sehat disini, percayalah.

Tersenyumlah…, keadaan ini bukanlah yang utama yang terlihat. Keadaan yang utama adalah yang terlihat setelah keadaan lainnya, itu saja alasannya.

Hai telinga, apa kabar?


Cukuplah sudah kata-kata, cukup sudah teriakan-teriakan. Hanya kata rindu. Tapi jadi awal dari segalanya. Kita yang jauh pada jarak sedang langkah telah didekatkan oleh keasingan.

Ini adalah salah satu kegiatan yang sering ku ulang. Mengeluh. 

Gumpalan unek-unek ini rentan pecah menjadi kata. Kapan, di mana, dan oleh apa saja. Iyah, kata yang tersusun menjadi kalimat curhatan.

Hey.. tapi ini cuma curhatan sederhana, gak muluk, gak idealis, gak juga oportunis apalagi tendensius. Sedikit berangkat dari beberapa peristiwa dan sedikitnya lagi dari kerinduan yang semua itu muncul karena banyaknya rasa akan kebersamaan.

Hei telinga, aku sedang merasa sangat asing dengan siapa yang sedang kuperankan. Seperti mendapat peran baru dengan dialog-dialog tak jelas, kaku, yang justru tak sengaja telah terpelihara selama ini. Padahal, semua adegan ini adalah kemungkinan. Belum ada kepastian. Kecuali bagi yang cukup angkuh untuk memastikannya.

Sebuah pertanyaan tersisa : masihkah ada harapan? Harapan yang tak pernah putus. cuma pudar, menghilang hingga terlupakan?

14.10. Jakarta, 7 Mei 2013.

maaf, aku kembalikan lagu ini padamu.


Memang tidak semuanya menjadi manis setelah itu. Proses inilah yang konon, ditempat lain,  telah melahirkan berbagai peristiwa dalam suatu hubungan yang tidak pernah jelas, setidaknya menurut kata-kata dan rasa.

Ketika garis perbatasan pun ditarik, antara kita dan bukan kita. Dan garis itupun mengeras. Melebur pada sebuah kebetulan yang terbayar oleh waktu. Aku sebagai kaum surrealis sok-sokan melibatkan alam bawah sadar Sigmund Freud, menganggap bahwa ini sebagai sebuah peristiwa yang akan tenggelam dimakan ikan di dasar laut pada malam hari.

Sore tadi, kita masih berbicara tentang kerelaan. Pernyataan itu bukanlah sekedar pernyataan kerelaan, melainkan semacam konsekuensi akan suatu ego yang telah membatu yang kemudian kembali menjadi peka terhadap jarak.

Kukembalikan lagu-lagu ini padamu, lagu kereta, lagu anjungan, lagu pasir pantai, lagu malam, bahkan lagu sepanjang perjalanan. Nadanya masih sama, tidak ada yang berubah. Sungguh, tidak sedikitpun berubah. Yang berubah hanyalah anggapanku, dulu itu semua lagu kita, kini menjadi lagu semua orang lagi.

Maaf memang tidak menghapuskan segalanya, justru menegaskan. Namun, hari pun selalu berangkat lagi, meski dengan luka, pahit, tertatih tapi juga dengan harapan baru.

Yang kemudian perlu ditambahkan adalah bahwa segala kenangan itu seperti sebuah lagu yang tak kunjung usai dimainkan. Kita disini hanya memainkan.

Logika menyusut, rindu membengkak.


Mempertengkarkan kenyataan, bukan pikiran. Menggoda logika.

Lagi-lagi kata logika, hingga saat ini aku masih belum bisa mengadaptasi kenyataan ini dengan sangat rasional dengan kata logika.

Iya, mungkin aku bisa dibilang termasuk orang yang berpikiran skeptis. Sulit bagiku untuk meyakini sesuatu tanpa bukti atau penjelasan yang logis. Ketika aku sudah yakin, mungkin aku sudah atau sedang mengalaminya. 

Rindu. Mungkin kata ini yang mau tak mau aku nyatakan, untuk menggambarkan kenyataan ini. Akan tetapi, selama ini aku hanya mampu memukul ruang kosong dengan jeritan kekesalan, protes dan sekitarnya. 

Yang aku dan kita sama tahu. Hidup memang terbatas, tapi kemungkinan tidaklah terbatas. Kita sendiri telah menciptakan keadaan ini, menerka-nerka gejala dan menghayati segala kegelisahan yang tak pernah berhenti. 

Padahal, kenyataan sesungguhnya sudah ada di hadapanku meski aku tidak menyadarinya, dan masih saja berputar-putar pada kemungkinan.

Hey… ini barulah sebuah awal pemahaman, bukan suatu pengorbanan. Karena ketika kita telah kehilangan sesuatu, kita harus siap untuk menggantikannya dengan siapa saja. Iya, siapa saja. 

Jakarta, 7 Mei 2013.

Sungguh, anggap saja ini curhat.


Suer, anggap saja ini curhat,

Akrab manakala harus, diam kalau perlu, sanggup berlaku seenaknya sendiri maupun serius, pokoknya berusaha menjalani kehidupan semesta secara semestinya. Salah satunya adalah yang membingungkan atau mematahkan semangat dalam kasih sayang maupun dalam kesendirian yang mampu menimbulkan kegembiraan-kegembiraan yang tak seimbang.

Pada titik ini, aku memikirkan tentang realita, eh sebenarnya bukan realita itu sendiri, melainkan lebih kepada apa yang ada di dalam pikiranku sendiri saat ini. Aku terbelah menjadi apa yang ada di pikiran dan apa yang ada di luar dari pikiranku. *ruwet.

Aku sedang mencoba memahami realita menjadi sesuatu yang sedang aku pikirkan, karena sebuah realita tidak dengan begitu saja dikatakan tidak ada hanya karena aku tidak mampu memikirkannya. Karena bagiku, realita yang tidak bisa dipikirkan merupakan realita yang belum terpikirkan untuk dipikirkan saja. *tambah ruwet

Aku sedang berusaha masuk dalam pemahamanku. Mengumpulkan semua kebetulan-kebetulan menjadi sesuatu yang dianggap wajar oleh waktu pada masanya nanti. Mungkin memang membutuhkan waktu untuk diam sejenak membelai semua peristiwa dan merasakan kembali untuk menjadi kerasan di dalam ketakkerasanan ini.

Ternyata aku belum mahir. Mahir dalam mengurai dari segala apa yang menggerakkan kemungkinan-kemungkinan itu. Karena betul-betul menjadi manusia yang sedemikian sempurna dan sederhana, jelas aku masih merasa sebagai pemula amatiran. Perlu diingat, sekali lagi. Anggap saja ini curhat.

Lompat – lompat tanpa jejak.


Dear cangkir kopi isi penuh,

Menghindari kenyataan, melempar semua keluhan kepada Tuhan. Mereka saling berebut fokus. Sekedar ingin dimengerti, hanya memuaskan emosi. Kumpulan keinginan memerlukan pikiran. Realita adalah satu hal. Semestinya adalah hal lain. Kedewasaan membuat kutahu membedakannya.

Dear cangkir kopi isi setengah,

Logika hanya berisi antara kata dan kenangan. Berlebih yang satu, mengurangi yang lain. Berusaha menambah kata tanpa mengubah kenangan. Meskipun kita juga perlu mempertimbangkan berbagai peristiwa dan rasa. Hey… sasaran mencurahkan segala rasa itu hati, bukan sekedar menggerakkan ibu jari.

Ketika beribu-ribu kata yang ternyatakan, tak dapat membatalkan satu kenyataan.

Dear cangkir kopi, cepat katakan, dimana jejakku berada.