Hal – hal yang tak Tertundukkan.


Banyak hari yang ingin aku lukiskan, misalnya seperti, ‘pertengahan bulan September’ atau ‘hari Jumat dan Sabtu kita’. Hari-hari yang dapat dianggap sama dengan hari lainnya akan tetapi mempunyai temperatur yang berbeda, khususnya bagi ingatan. Sepanjang kita membicarakan hari, tanpa temperatur dimana mereka dinyatakan, ingatan tidak akan memegang peranan sama sekali.

Ingatan hanya berlaku dalam menerjemahkan temperatur ke dalam hari atau waktu. ah. kalimat ruwet apalah ini.

Temperatur ini mendesak. Temperatur mempunyai peranan penting lainnya bila dihubungkan dengan ingatan mengenai hubungan sebab akibat. Seperti halnya suatu ingatan tidak menyatakan bahwa suatu peristiwa selalu akan mengakibatkan peristiwa yang lain, melainkan hanya menyatakan peluang untuk terjadinya peristiwa tersebut.

Peristiwa akhir-akhir ini, memegang kendali temperaturku. Namun, ingatan tetap tak mau ditundukkan.

.Seperti Menguasai Penguasaannya Sendiri.


Masih.

Tidak sepaham. Tidak sepengertian pemikiran. Tidak sependapat.

Sah saja. Karena bebas untuk saling menilai, saling mengkritik bahkan saling menghakimi yang pastinya dilandasi oleh rasa keterbatasan sebagai makhluk yang tidak sempurna. Karena kecenderungan berbeda- beda itu tidak muncul dari niatan sengaja untuk bersikap otoriter terhadap suatu keadaan. Paling jauh adalah ungkapan diri untuk senantiasa mempertahankan diri. Diri yang harus selalu dipertahankan, termasuk di dalamnya semua keyakinan dan pengertian-pengertian pikiran kita sendiri. Persoalannya adalah bahwa kita tidak harus melulu menyuruh semua orang untuk sependapat dengan kita, dan hendaknya kita mampu meyakini bahwa sejatinya tanpa seorangpun yang sependapat dengan kita, kita tetap sah untuk menghidupi keyakinan dan pemahaman kita.

Ketika sosok tubuh kebenaran diri kita belum tentu identik dengan sosok tubuh kebenaran orang lain. Kita terjebak dalam sikap mutlak-mutlakan di tengah perbedaan pandangan, karena kita terlalu posesif terhadap kepemilikan atas pengertian-pengertian kita sendiri. Kita begitu romantik. Begitu romantikanya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita menjadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat emosi. Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan secara spiritual psikologis kita menjadi tidak dewasa. Keduanya tergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan diri untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan baru atas diri kita. Sehingga dalam keadaan begitu tanpa sadar sering berburuk sangka, cepat cenderung hanya mencari kesalahan orang lain.  Yang lebih lucu lagi, di dalam saling mencerca itu, kita masing-masing merasa benar. Mata kita buta, telinga tuli. Defensive dalam arti emosional, gengsi atau harga diri pada proporsi yang tidak wajar sehingga mempertahankan pendapat sendiri secara membabi buta.

Silahkan duduk, akal sehat.

Kelanjutan dari aku ke aku dari hari ke hari.


Kemanapun hilangnya, toh rasa ini kembali lagi padaku. Atau lebih tepatnya, aku yang kembali padanya. Sekarang aku masih percaya bahwa benci masih lebih kuat daripada rindu. Hanya saja, aku butuh waktu lama untuk melupakannya. 

Aku mengakui keletihan ini, aku bahkan kehilangan benang merah tiap kata segala peristiwa yang berlalu saja setiap hari. Kehilangan situasi dalam suatu kesengajaan. Kata-kata makian berlipatganda di sekitaranku. Kesendirian telah sungguh terbukti, ketika hanyut oleh kesedihan yang kering sedang mata selalu basah. Aku menghilang, untuk menghukummu. Boleh dikata demikian. Tapi, aku tidak yakin. Aku tidak pernah yakin hukuman ini menimpa padamu? Bukan. Ya, aku sendiri. Aku cidera. Cidera yang cukup dalam terutama karena kesengajaan. Terlalu dalam. Aku layaknya seorang yang melakukan bunuh diri. Karena satu alasan? Tidak. Aku bunuh diri karena dua alasan. Yang pertama, karena aku mencintai diriku sendiri. Yang kedua, kamu yang selalu tahu alasannya.

Diam saja membungkam sambil meresapi ketaknyamanan ini, atau setidaknya berdustalah dengan cara yang paling mungkin. Seperti, aku baik-baik saja. Dulu, kemarin. Dan hari ini.

.kita hanya ada sepanjang kita bergantung bersama.


kita hanya ada sepanjang kita bergantung bersama. ingatan ada selama kita bersama.

ketika ingatan menganggap kenangan adalah sebuah sejarah. nostalgia yang tak tersembuhkan akan suatu dunia yang telah lama hilang. adalah kekuatan ingatan untuk mewujudkan apa yang ada dan yang telah ada menjadi kepingan-kepingan kenangan mengerak di lapisan dasar sejarah terlepas dari biasnya prasangka.

ironi-ironi kecil semakin menegaskan bahwa setiap ingatan yang melibatkan emosi, masih tak pernah mau berkompromi dengan waktu. bukan ingatan sederhana, tentunya. kini, baik ingatan maupun kenangan harus tunduk kepada sejarah secara berkelanjutan, tetapi bagaimana ingatan dan kenangan muncul kembali adalah perkara lain.

sejarah, ia mampu menyampaikan kenangan-kenangan yang tidak pernah mencapai pengertian sepenuhnya hingga suatu ingatan yang tetap berada jauh, diperintahkan diam oleh masa lalu.

padamu, sejarah. kuserahkan entah ingatan, entah kenangan. sama saja.

kapak lupa, pohon ingat.


sama halnya denganku yang mengingat segala peristiwa dengan caraku sendiri. bagaimana aku mengingat semua meskipun belum tentu bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

sama halnya dengan hujan hari ini, celakanya tak hanya mengingatkan aku akan bagaimana caranya agar tidak basah. tapi, lebih dari itu. lebih.

bertubi-tubi mencoba mendefinisikan peristiwa ini dalam hal orang lain. meskipun ini sangat membebaskan, membebaskan aku dalam segala ingatan yang kini lebih sering ke sebut sebagai museum ketakutan.

namun, aku tidak pernah menyalahkan ingatan atas keterasingan yang terjadi oleh jeda. aku bertanggung jawab atas harapan yang kubawa, untuk reaksi emosionalku sendiri, untuk ketidaknyamananku sendiri, dan untuk suasana hatiku sendiri.

menurutku, ingatan ini tak perlu kuperlihatkan seutuhnya padamu. sama halnya bulan malam ini, dia hanya menunjukkan sebagian dirinya. dengan begitu mungkin akan lebih indah dilihat, terkadang.

meskipun, kadang muncul kadang hilang di balik awan. ah, tapi aku selalu ingat, karna aku: pohon.

eh, jangan-jangan, kita adalah sama-sama kapak. atau sebaliknya. aku: pohon. kamu : pohon. yang tak mengucapkan sepatah katapun. meskipun bersebelahan, diam, berabad-abad.

ah, tapi tahukah kamu, ingatan?

seseorang yang kuingat setelah kucingku pergi, kamu.

 

Lagi, Satu Rasa : Kata.


 

Pada mulanya adalah bukan kata, tapi rasa. Satu kata yang dirasakan hingga menjadi rasa yang terkatakan. Makna, mungkin perlu makna untuk menjembatani agar kata tak terpisahkan dari rasa, meskipun rasa juga merupakan pemberontakan dari kata.

Ini tentang sebuah kata yang tengah ku rasa. Aku melihat, tiap kata memiliki rasa yang berbeda hingga mampu melahirkan rasa baru. Bagiku, yang menarik di sini adalah persoalan kata dan rasa.

Aku masih menyisakan kata yang belum dibahas dalam rasa ini, haruskah aku bertanya dengan kata? tak bisakah aku bertanya dengan rasa?

Mungkin sebenarnya kata-kata telah melaksanakan dengan baik tanggung jawabnya untuk menciptakan dan mempertahankan rasa. Akan tetapi, tugas ini menjadi mustahil untuk dilakukan dengan baik sejauh setiap kata tidak mengakui keadaan apa adanya dan mengacuhkan rasa yang seharusnya.

Seandainya terdapat cara yang tidak hanya menjadikan kata sebagai penunjuk rasa melainkan sebagai sumber perasaan, sebuah cara yang tidak hanya menjadikan kata menjadi kalimat namun juga sebagai sesuatu yang dirasa juga merasa.

Satu kata, satu nama, satu rasa.

.Layani aku dengan senyumanmu.


Pada suatu sembarang keadaan.

Aku sukar bernafas, telinga semakin panas, udara terasa semakin gerah hingga menyesakkan dada, mendengar peristiwa-peristiwa yang sengaja diringkas sedang emosi semakin tertahan. Pada cuaca yang sedang seperti ini, yang kulakukan hanyalah menghambur-hamburkan perasaan ini. 

Ini tidaklah mudah, meskipun aku membawa sekotak kebenaran sedang kamu juga mempunyai sekoper kebenaran. Iya, seperti itulah kebenarannya, kata kita. Tapi, bagaimana kita bisa berpikiran bahwa kita memang benar? Ketika kita belum terbebas dari segala alasan hebat. Alasan yang belum pasti. Lagipula, kepastian itu tidak selalu disertai dengan konsekuensi.

Masing-masing kita menuntut status tidak bersalah, dengan harga apapun. Kita saling tergesa-gesa untuk menyimpulkan keputusan satu sama lain, hingga pembenaran selalu menjadi benar bagi kita.

Hey… Kita sedang sama-sama berhenti di puncak. Bukan, bukan untuk saling menunggu siapa duluan yang jatuh. Kita sedang menunggu kapan waktu yang tepat untuk turun. Tidak, tidak ada hal yang tidak sehat disini, percayalah.

Tersenyumlah…, keadaan ini bukanlah yang utama yang terlihat. Keadaan yang utama adalah yang terlihat setelah keadaan lainnya, itu saja alasannya.

Hai telinga, apa kabar?


Cukuplah sudah kata-kata, cukup sudah teriakan-teriakan. Hanya kata rindu. Tapi jadi awal dari segalanya. Kita yang jauh pada jarak sedang langkah telah didekatkan oleh keasingan.

Ini adalah salah satu kegiatan yang sering ku ulang. Mengeluh. 

Gumpalan unek-unek ini rentan pecah menjadi kata. Kapan, di mana, dan oleh apa saja. Iyah, kata yang tersusun menjadi kalimat curhatan.

Hey.. tapi ini cuma curhatan sederhana, gak muluk, gak idealis, gak juga oportunis apalagi tendensius. Sedikit berangkat dari beberapa peristiwa dan sedikitnya lagi dari kerinduan yang semua itu muncul karena banyaknya rasa akan kebersamaan.

Hei telinga, aku sedang merasa sangat asing dengan siapa yang sedang kuperankan. Seperti mendapat peran baru dengan dialog-dialog tak jelas, kaku, yang justru tak sengaja telah terpelihara selama ini. Padahal, semua adegan ini adalah kemungkinan. Belum ada kepastian. Kecuali bagi yang cukup angkuh untuk memastikannya.

Sebuah pertanyaan tersisa : masihkah ada harapan? Harapan yang tak pernah putus. cuma pudar, menghilang hingga terlupakan?

14.10. Jakarta, 7 Mei 2013.

maaf, aku kembalikan lagu ini padamu.


Memang tidak semuanya menjadi manis setelah itu. Proses inilah yang konon, ditempat lain,  telah melahirkan berbagai peristiwa dalam suatu hubungan yang tidak pernah jelas, setidaknya menurut kata-kata dan rasa.

Ketika garis perbatasan pun ditarik, antara kita dan bukan kita. Dan garis itupun mengeras. Melebur pada sebuah kebetulan yang terbayar oleh waktu. Aku sebagai kaum surrealis sok-sokan melibatkan alam bawah sadar Sigmund Freud, menganggap bahwa ini sebagai sebuah peristiwa yang akan tenggelam dimakan ikan di dasar laut pada malam hari.

Sore tadi, kita masih berbicara tentang kerelaan. Pernyataan itu bukanlah sekedar pernyataan kerelaan, melainkan semacam konsekuensi akan suatu ego yang telah membatu yang kemudian kembali menjadi peka terhadap jarak.

Kukembalikan lagu-lagu ini padamu, lagu kereta, lagu anjungan, lagu pasir pantai, lagu malam, bahkan lagu sepanjang perjalanan. Nadanya masih sama, tidak ada yang berubah. Sungguh, tidak sedikitpun berubah. Yang berubah hanyalah anggapanku, dulu itu semua lagu kita, kini menjadi lagu semua orang lagi.

Maaf memang tidak menghapuskan segalanya, justru menegaskan. Namun, hari pun selalu berangkat lagi, meski dengan luka, pahit, tertatih tapi juga dengan harapan baru.

Yang kemudian perlu ditambahkan adalah bahwa segala kenangan itu seperti sebuah lagu yang tak kunjung usai dimainkan. Kita disini hanya memainkan.

Logika menyusut, rindu membengkak.


Mempertengkarkan kenyataan, bukan pikiran. Menggoda logika.

Lagi-lagi kata logika, hingga saat ini aku masih belum bisa mengadaptasi kenyataan ini dengan sangat rasional dengan kata logika.

Iya, mungkin aku bisa dibilang termasuk orang yang berpikiran skeptis. Sulit bagiku untuk meyakini sesuatu tanpa bukti atau penjelasan yang logis. Ketika aku sudah yakin, mungkin aku sudah atau sedang mengalaminya. 

Rindu. Mungkin kata ini yang mau tak mau aku nyatakan, untuk menggambarkan kenyataan ini. Akan tetapi, selama ini aku hanya mampu memukul ruang kosong dengan jeritan kekesalan, protes dan sekitarnya. 

Yang aku dan kita sama tahu. Hidup memang terbatas, tapi kemungkinan tidaklah terbatas. Kita sendiri telah menciptakan keadaan ini, menerka-nerka gejala dan menghayati segala kegelisahan yang tak pernah berhenti. 

Padahal, kenyataan sesungguhnya sudah ada di hadapanku meski aku tidak menyadarinya, dan masih saja berputar-putar pada kemungkinan.

Hey… ini barulah sebuah awal pemahaman, bukan suatu pengorbanan. Karena ketika kita telah kehilangan sesuatu, kita harus siap untuk menggantikannya dengan siapa saja. Iya, siapa saja. 

Jakarta, 7 Mei 2013.